Pelaku Pengeroyokan Audrey Minta Maaf

Pelaku Pengeroyokan Audrey Minta Maaf, Namun Hukum Tetap Berjalan

Pelaku pengeroyokan dan penganiayaan Audrey akhirnya meminta maaf. Ada sebanyak 7 pelajar yang berbicara dalam jumpa pers yang dilakukan pada hari Rabu tersebut. Mereka didampingi oleh Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat ketika melakukan jumpa pers tersebut. Ada dari antara mereka yang sudah mengakui bahwa memang benar terjadi penganiayaan ringan.

“Kami menyesal dan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada korban, pihak keluarga, dan masyarakat umum. Dalam kasus ini, kami juga menjadi korban bully dari medsos yang telah menghakimi melakukan pengeroyokan dan merusak area sensitif korban. Padahal hanya penganiayaan ringan, bahkan kami kini diancam dibunuh dan terus diteror oleh warganet,” ungkap salah seorang pelajar.

Ketika jumpa pers, para pelaku membantah bahwa mereka melakukan pengeroyokan. Mereka mengatakan bahwa mereka berkelahi satu lawan satu. Pihak Polresta Pontianak telah menetapkan 3 orang tersangka, masing-masing berinisial FA atau LI, TP atau AR, dan NN atau EC dengan dugaan kasus penganiayaan.

“Dari hasil pemeriksaan akhirnya kami menetapkan tiga orang sebagai tersangka, sementara lainnya sebagai saksi. Terhadap ketiga tersangka dikenakan Pasal 80 ayat (1) UU No. 35/2014 tentang Perubahan atas UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak,” kata Kombes Anwar Nasir.

Pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sendiri mengapresiasi permintaan maaf dari para pelaku kekerasan terhadap Audrey. Namun meskipun sudah mengucapkan permintaan maaf, Wakil Ketua KPAI, Rina Pranawati mengatakan bahwa permintaan maaf yang sudah disampaikan bukan berarti membatalkan proses hukum yang sedang berlangsung. Rina juga meminta agar para penegak hukum memperlakukan tersangka sesuai dengan UU Sistem Peradilan Anak.

“(Proses hukum) tetap berjalan. Meminta maaf adalah satu sikap baik, tapi demikian proses hukumnya juga kita awasi sesuai dengan undang-undang berlaku,” kata Rina di Kantor KPAI, Jakarta, Kamis (11/4).

Rina mengatakan bahwa saat-saat seperti ini peran dua keluarga sangat dibutuhkan. Demi menjaga kondisi psikologis korban juga pelaku.

Baca juga berita dan informasi terkini lainnya klik disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *