Februari Deflasi, Istana Klaim Inflasi Bisa Dijinakkan

FEBRUARI DEFLASI ISTANA KLAIM INFLASI BADAN PUSAT STATISTIK MENCATAT

Februari Deflasi, Istana Klaim Inflasi Bisa Dijinakkan. Badan Pusat Statistik mencatat, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,08 persen pada Februari 2018. Deflasi tersebut terutama bersumber dari deflasi bahan makanan yang mencapai 1,11 persen. Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika menegaskan, di samping itu, berdasarkan data yang dikutipnya dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional 2019 juga menunjukkan, beberapa komoditas pada Februari 2019 menurun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dia menyebutkan, penurunan harga tertinggi terjadi di cabai merah mencapai 32,88 persen secara tahunan, cabe rawit 26 persen, bawang putih 10,41 persen, gula pasir 7,45 persen, minyak goreng 4,34 persen, dan beras 1,65 persen. Karenanya, penurunan harga secara umum itu dikatakannya berkontribusi signifikan bagi ekonomi nasional. “Pemerintah kembali meneruskan rekor pengelolaan harga yang stabil. Inflasi yang selama ini menjadi momok bisa dijinakkan dengan baik selama 4 tahun dan terus berlangsung hingga sekarang,” kata dia seperti dikutip dari keterangan resminya, Sabtu 2 Maret 2019.

FEBRUARI DEFLASI ISTANA KLAIM INFLASI CAPAIAN TERSEBUT BERPOTENSI MEMPERCEPAT PENURUNAN KEMISKINAN

Dengan begitu, Erani mengklaim, capaian tersebut berpotensi mempercepat penurunan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Sebab, ada beberapa komoditas yang menentukan tingkat kemiskinan di Indonesia. Seperti beras, daging dan telur ayam, gula pasir hingga bawang merah. Selain itu, penurunan harga menurutnya juga akan membantu meningkatnya porsi pengeluaran penduduk 40 persen terbawah dalam struktur pengeluaran penduduk di Indonesia. Dengan demikian, ketimpangan pendapatan ditegaskannya dapat diturunkan. Dengan demikian, pemerintah dapat mencapai target-target pembangunan ekonomi dan sosial lebih cepat dan terasa,” ungkap Erani.

Ke depan, beberapa langkah yang akan dilakukan pemerintah dalam mengendalikan inflasi, disebutkannya yaitu, menjaga keterbukaan ekonomi nasional dari gejolak harga komoditas dunia, terutama minyak. Hingga, memperkuat pemetaan ketersediaan komoditas pangan di daerah sehingga dapat saling melengkapi antara daerah surplus dan defisit. Dan semakin memperkuat peranan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), terutama di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar,” tegasnya.

Baca juga berita dan informasi terkini lainnya klik disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *